Tragedi Danau Toba Dishub akui kewalahan awasi kapal

Tragedi Danau Toba Dishub akui kewalahan awasi kapal

Channel24indo – Dinas Perhubungan (Dishub) Sumut mengakui kewalahan dalam lakukan pengawasan angkutan perairan, termasuk juga pengawasan kapal KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, sementara polisi telah menahan nakhoda kapal.

” Sebelum berlayar mereka itu kan ada izin berlayar. Itu biasa di cek. Lalu saat di tengah berlayar dia angkut penumpang secara ilegal, ini yg tidak bisa kita deteksi, ” kata Sekretaris Dinas Perhubungan Sumut Darwin Purba, di Dermaga Tiga Ras, Kabupaten Simalungun.

Darwin mengakui pihaknya susah mengawasi, lantaran warga sekitar dan para awak kapal, termasuk juga nahkoda ‘sering bandel. Dan data korban masih simpang siur menurutnya lantaran manifes penumpang cuma mencatat sekitar 95 orang.

Darwin Purba mengibaratkan kapal yang tenggelam ini dengan angkutan kota (angkot) serta bus yang angkut penumpang di tengah jalan tanpa ada beli tiket resmi di loket serta tak di ketahui nama dan asal penumpang.

” Info yang saya terima bahkan kapal ini membawa 65 sepeda motor. 20 sepeda motor diantaranya yaitu Vespa komunitas yang lakukan touring keliling daerah. Ditambah penumpang 185 orang informasinya. Pikirkan, seberat apa kapal ini, ” tambah Darwin Purbam.

Polisi telah menahan nakhoda kapal Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba dan menewaskan sejumlah orang serta lebih dari 170 orang masih hilang.

Nakhoda ini, Tua Sagala, yaitu satu dari 18 orang yang berhasil diselamatkan saat kapal ini tenggelam, sekitar satu kilometer dari pelabuhan.

” Polisi tengah menyelidiki adakah kelalaian yang dilakukan oleh yang bersangkutan, hingga menyebabkan kecelakaan itu, ” kata Kapolres Samosir, AKBP Agus Darodjat, pada wartawan.

” Akan tetapi kami menanyainya masih sedikit demi sedikit, lantaran kondisinya masih belum pulih. Jadi saat ini prioritasnya yaitu pemulihan kesehatannya terlebih dulu.

Pada hari Kamis (21/6) ini, semua korban lain yang berhasil diselamatkan saat tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun di danau Toba, yang pada awal mulanya dirawat di Puskesmas Simarmata serta RS dr Adrianus Sinaga Pangururan Samosir telah dijemput keluarga masing-masing.

” Keluarga menjemput mulai Selasa (19 Juni 2018). Dan sampai saat ini, Kamis (21 Juni 2018), semuanya 18 korban selamat sudah tiba ke pihak keluarga, ” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Samosir Mahler Tamba.

Disamping itu, usaha pencarian lebih dari 180 penumpang yang dilaporkan hilang, kembali dilanjutkan.

” Saat ini, bersama tim gabungan kita masih tetap lakukan penelusuran lanjutan ke dalam air menyusuri seluruh titik Danau Toba, ” kata Mahler Tamba.

Mahler Tamba menyampaikan para keluarga itu datang dari beragam daerah di Medan, Lubuk Pakam sampai Simalungun dan Siantar.

Menurut dia, mereka diizinkan pulang lantaran diantara para korban yang selamat ini tak ada yang mengalami luka berat atau membutuhkan perawatan intensif rumah sakit.

” Rata-rata korban alami luka ringan serta kedinginan lantaran lama terapung di di air, ” imbuhnya.

Presiden Joko Widodo, menyampaikan duka citanya untuk para korban, serta menyatakan kalau pemerintah bakal ambil berbagai langkah supaya kecelakaan tragis seperti ini tidak terjadi kembali.

” Saya telah memerintahkan pada Menteri Perhubungan, supaya mengevaluasi semua prosedur serta standar keselamatan angkutan laut, ” tuturnya pada wartawan, di istana Negara, rabu (20/6).

Sebelumnya, pemerintah telah menghentikan sementara semua angkutan laut di Danau Toba.

Tetapi dalam pengamatan Channel24indo, masih ada sekitar 5 kapal motor kayu yang masih tetap beroperasi di sepanjang pinggir Danau Toba, padahal ada keputusan untuk menghentikan sementara angkutan kapal di danau Toba.

Sekretaris Dinas Perhubungan Sumut Darwin Purba, enggan menjawab detail.

” Saya tak terlalu paham larangan Menhub untuk kapal dilarang berlayar itu. Lantaran aktifitas masyarakat sekitaran Danau Toba juga kan perlu kapal itu, ” katanya.

Sampai Kamis (21/6) sore, belum ada perkembangan dari upaya pencarian. Selain dari 18 yang selamat dan tiga tewas, belum juga jelas, bagaimana nasib 178 penumpang lainnya yang dilaporkan hilang.

Tragedi Danau Toba Dishub akui kewalahan awasi kapal

Arus bawah serta vegetasi jadi hambatan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara mengungkap satu diantara alasan sulitnya temukan korban dan bangkai kapal, yaitu dikarenakan ada arus bawah serta rimbunnya vegetasi di beberapa titik Danau Toba.

” Menurut pengetahuan penduduk airnya juga mengalir di bawah danau… Dan satu hari sesudah tenggelamnya kapal, ombak sangat besar, jadi sangat mungkin sekali (korban) terbawa arus kesana kemari, ” kata Kepala BPBD Sumatera Utara, Riadil Lubis.

Diluar itu, Riadil menambahkan, lekukan-lekukan serta beberapa tanaman didalam danau dikhawatirkan membuat ‘korban terangkut atau tersembunyi’ sehingga susah terapung.

Sepanjang Rabu, Tim SAR sudah menemukan empat jenazah.

” Penemuan pada pukul 08:00, 10:40 dan 15:00. Hingga total ada lima jenazah. Sementara korban selamat berjumlah 18 orang, “ papar Riadil.

KM Sinar Bangun terbenam pada Senin (18/06) seputar jam 17:15 WIB, waktu berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Pulau Samosir, menuju ke Tigaras, Kabupaten Simalungun.

Beberapa korban yang menaiki kapal sedang berwisata menikmati libur Lebaran.

Pencarian diperluas ketiga area

Khawatir korban serta kapal terbawa arus bawah, tim SAR juga mulai Rabu pagi sudah memperluas pencarian jadi tiga area.

” Area satu itu di TKP tempat tenggelamnya kapal. Di sana tim menyelam sampai kedalaman 25 meter. Area dua itu terletak 100 meter di samping kanan TKP. Sementara area tiga berada 100 meter di samping kiri TKP, ” ungkap Riadil.

Dalam wawancara dengan Channel24indo, Selasa (20/06), Riadil mengungkap kalau pencarian korban serta kapal akan menantang, lantaran Danau Toba mempunyai kedalaman 900 meter.

Lalu apakah penyelaman hingga kedalaman 25 meter efektif untuk mencari korban?

” Kedalaman 900 meter ini kan yang terdalam. Disana-sini tidak sampai segitu. Nah, saat ini cuaca agak cerah, bagus, gelombang danau agak baik, tenang, mudah-mudahan pencarian bisa ada hasil, ” jawab Riadil.

Tetapi, sampai Rabu sore dan setelah area pencarian diperluas, sinyal tanda keberadaan kapal serta korban tetap belum juga di ketahui.


Kapasitas kapal cuma 43 penumpang

Di tempat terpisah, Kementerian Perhubungan mengonfirmasi kalau KM Sinar Bangun kelebihan muatan.

” Kapal (ini) memiliki ukuran 35 GT (gross tonage) berkapasitas 43 orang. Kapal kecil, ” kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, dalam konferensi pers di kantornya di Jakarta, Rabu (20/06).

Budi juga mengilustrasikan kalau untuk kapal dengan ukuran itu, sejumlah 80 penumpang masih tetap dapat diangkut, ” namun bila 200 (penumpang) kemungkinan tidak cukup “.

Dipaparkannya, saat berlayar dari Pulau Samosir ke Simalungun, KM Sinar Bangun, dihadang cuaca buruk ; hujan deras serta angin kencang. Bukan hanya itu, gelombang danau disebut Budi mencapai dua meter.

Keadaan itu diperburuk dengan kurangnya jaket pelampung yang ” jumlahnya cuma 45 buah. Bayangkan penumpang sebanyak itu (lebih 180 orang), banyak yg tidak pakai life jacket, ” papar Menhub.

Budi mengungkapkan pencarian korban bakal dilakukan hingga tujuh hari ke depan serta jika diperlukan bakal ditambah tiga hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *