Selama Ramadan Ormas dilarang melakukan Razia

Selama Ramadan Ormas dilarang melakukan Razia

Channel24indo – Kapolri Tito Karnavian melarang ormas lakukan razia atau sweeping selama bulan Ramadan, serta bakal menindak tegas ormas yang tetap lakukan penertiban sepihak.

Pengawasan tempat makan serta hiburan cuma bisa dilaksanakan oleh petugas resmi yang berwenang sesuai Perda masing-masing daerah.

Masih melekat dalam ingatan kejadian warung makan Ibu Saeni yang dirazia Satpol PP Kota Serang pada Ramadan tahun lalu. Momen yang pernah membuat kehebohan itu ternyata tidak membuat beberapa pemilik warung takut untuk berjualan di bulan puasa tahun ini.

Anita, yang memiliki warung di lokasi Menteng Jakarta Pusat berkata bakal terus buka selama bulan Ramadan.

” Yang Islam tetap puasa, yang Kristen kan tidak puasa. Jadi kita sama-sama ngeladenin. Ketimbang mencari makan kemana-mana, sudah buka saja. (Warung) tidak pernah ditutupin (kain), makan didalam saja, ” kata Anita yang sudah berjualan selama puluhan tahun.

Begitu halnya dengan Lewas, pedagang sate di Menteng berkata bakal terus berjualan, meski akan mulai jam 3 sore.

” Kan masyarakat disini perlu makan juga. Bila kita tidak dagang, repot dia cari makanan. Lagian kita perlu uang juga buat lebaran, ” kata Lewas.

Selama Ramadan Ormas dilarang melakukan Razia

Selain Satpol PP, yang sering lakukan razia atau sweeping tempat makan atau tempat hiburan yaitu ormas. Serta ormas yang seringkali menggelarnya yaitu Front Pembela Islam (FPI).

Kapolri Tito Karnavian mempertegas kalau ormas tidak boleh lakukan razia atau sweeping tempat makan atau tempat hiburan yang kedapatan masih tetap beroperasi selama Ramadan, tetapi sebagai bagian dari usaha pengawasan, ormas bisa melaporkan ke polisi bila di ketahui ada pelanggaran di masyarakat.

Polisi juga telah mensosialisasikan peraturan ini pada ormas serta bakal menindak tegas ormas yang tidak mematuhi.

” Penegak hukum cuma polisi, masyarakat atau ormas tak bisa melakukan sweeping. Itu pelanggaran hukum. Bakal kita dudukkan nanti perbuatan pidananya. Bila dia menyebabkan kerusakan yah kita gunakan pasal pengrusakan. Bila mengeroyok, yah kita (kenakan) pengeroyokan. Dan sebagainya seperti pasal-pasal yang ada di UU Hukum Pidana kita, ” jelas Humas Polri Kombespol Awi Setiyono.

Selama Ramadan Ormas dilarang melakukan Razia

Awi juga meminta supaya masyarakat serta pengusaha tempat-tempat hiburan untuk mematuhi Perda perihal waktu buka dan tutup tempat-tempat hiburan untuk mengantisipasi kegerahan ormas.

Ahli kebijakan hukum Agus Pambagio menyampaikan Perda yang mengatur jam buka-tutup sepenuhnya otoritas Pemda. Menurut dia Perda sejenis itu merupakan kebijakan yang populis.

” Kebijakan kan bergantung pada keyakinan si eksekutif lalu keinginannya masyarakat seperti apa. Serta itu yang perlu diakomodir, ” kata Agus.

” Namun bila anda tanya saya pribadi, kebijakan adalah kebijakan. Bila kita campur dengan masalah agama, buat saya itu masalah pribadi pada Allah. ”

Ketua Satpol PP DKI Jakarta Jupan Royter berkata Surat Edaran jam buka-tutup tempat hiburan telah disosialisasikan oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta serta satuannya siap mengawasi proses ketentuan itu bersama dengan Dinas Pariwisata.

Jika ada yang tidak mematuhi, maka bakal dikenakan sanksi.

Selama Ramadan Ormas dilarang melakukan Razia

” Pastinya ada tahapan sesuai Perda Kepariwisataan. Ada tahapannya : surat peringatan ringan, buat berita acara. Hingga bila memang kedapatan membandel, pasti bakal dikenakan sanksi berupa apakah pencabutan ijin, atau apa. Ada ketentuannya, ” jelas Agus.

Untuk lokasi Jakarta, Perda mengambil keputusan kalau klab malam, diskotik, bar serta griya pijat harus tutup dari sehari sebelum bulan Ramadan sampai sehari setelah hari raya Idul Fitri.

Bar di hoteldan karaoke cuma bisa beroperasi sampai jam 01. 30 selama bulan Ramadan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *