Pemahaman Bahwa HIV/AIDS Bisa Atau Tidak Tertular Melalui Ciuman

Mungkin pernyataan ‘ciuman bisa menularkan HIV‘ terdengar tak asing di telinga kita, terutama orang dengan HIV AIDS (ODHA). Di luar sana, memang banyak mitos yang keliru soal penularan HIV.

Kemunculan kabar hoaks ini tanpa disadari malah memperparah stigma terhadap ODHA, yang bisa mengalami diskriminasi sosial oleh masyarakat yang salah paham.

Penggunaan alat makan, misalnya. Gara-gara banyak orang telanjur percaya bahwa cara penularan HIV bisa terjadi melalui penggunaan alat makan secara bergantian antara ODHA dengan orang sehat. Tak terhitung sudah berapa banyak ODHA yang dijauhi dari lingkungannya.

Kenyataannya, itu jelas omong kosong. Selain karena virus mudah mati di udara bebas, virus di dalam air liur tidak cukup banyak untuk ditularkan ke orang lain.

Bagaimana dengan ciuman? Jawabannya, ada dua kemungkinan. Bisa iya, bisa juga tidak.

Seperti dikutip dari situs AIDS.org pada Minggu, 1 Desember 2019, kontak sosial seperti ciuman pipi dengan pipi tidak berisiko menularkan HIV. Akan tetapi, berbeda halnya bila melakukan ciuman seperti french kiss.

Di situs itu disebutkan bahwa ciuman dengan mulut terbuka berpotensi mengalami kontak darah, sehingga tidak direkomendasikan dilakukan oleh orang yang diketahui terinfeksi HIV.

Dalam sebuah kesempatan, Ketua Umum Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI), dr Hanny Nilasari SpKK(K) mengutarakan penjelasan yang sama.

Nah, kalau berciuman ini yang harus diklarifikasi. Kalau skin to skin contact saja mungkin tidak masalah. Tapi kalau sudah french kiss, di mana sudah terjadi pertumpahan atau pertukaran cairan tubuh, ditambah pula di situ ada luka, itu mempermudah infeksinya,” kata Hanny kepada Health ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan belum lama ini.

Dalam penelitiannya, lanjut Hanny, tidak dikatakan bahwa 100 persen french kiss bisa menularkan virus HIV.

“Bukan 100 persen, tapi bisa jadi benar. Karena meskipun sedikit, pasti akan ditularkan. Akan tetapi memang harus dilakukan penelitian lagi.”

Menurut Hanny, air liur masih bisa mengandung virus HIV tetapi daya tularnya rendah. Ditemukannya virus di dalam air liur, tentunya jumlahnya sangat sedikit.

“Sama seperti air susu ibu. Jadi, ditemukan tapi jumlahnya sangat sedikit,” katanya.

Banyak sebenarnya kabar keliru soal penularan HIV yang harus diluruskan. Beberapa contoh yang Henny sebutkan, di antarannya penggunaan toilet yang bergantian dengan ODHA. Tentu saja perilaku ini tidak menularkan infeksi. 

Begitu juga dengan bertukar pakaian, berbagi makanan dan minuman, bahkan berenang di satu kolam yang sama pun tidak akan terjadi proses penularan. 

“Karena sebetulnya ditularkannya virus HIV atau IMS (infeksi menular seksual) melalui kontak seksual. Itu yang paling banyak,” katanya.

“HIV sendiri bisa ditularkan melalui kontak darah, misalnya ibu yang mengandung kemudian dia punya virus HIV tentunya anak atau bayinya bisa tertular. Kemudian, orang-orang yang melakukan tato (yang) jarumnya dipakai bergantian itu bisa juga. Dari satu orang yang kemungkinan terifeksi virus HIV kemudian menginfeksi orang lain. Itu bisa,” Hanny melanjutkan.

Apalagi jika ada yang percaya bahwa infeksi HIV bisa tertular melalui gigitan nyamuk. Hanny menekankan bahwa itu tidak benar.

“Nyamuk itu bukan resevoir yang baik untuk si virus, sehingga dia tidak akan bisa berkembang di situ. Dia akan mati. Kalau pun dia menggigit orang lain tidak akan menularkannya,” ujarnya.

Mitos lain yang cukup membuat Hanny elus-elus dada adalah tinggal serumah dengan orang terinfeksi HIV dianggap ‘berbahaya’.

“Begini, ya, apabila tidak melakukan apa-apa, ya tidak, kecuali dia kontak seksual ya pasti kena,” katanya.

Jadi, mulai sekarang berhenti mempercayai kabar keliru seperti di atas. Anda harus tahu bahwa kepercayaan akan mitos-mitos mengenai penularan HIV dapat menghambat upaya tenaga medis untuk merawat ODHA dengan baik. 

Sekali lagi, kontak sosial dengan ODHA seperti bersalaman dan berpelukan tak akan menularkan HIV. Kalau memang harus menjauh, jauhi virusnya bukan orangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *