Kondisi Tanah Abang Setelah Ahok Ambil Cuti Kampanye

Channel24indo – Lokasi pasar Tanah Abang Jakarta Pusat, populer lantaran arus jalan raya yang semrawut. Bukanlah rahasia umum bila melewati lokasi tersebut, bukan sekedar tenaga yang harus dimaksimalkan, namun juga harus kuat dengan cara mental supaya tak tersulut emosi lantaran ruwetnya jalan raya.

Tetapi, mulai sejak Joko Widodo menjabat sebagai Gubernur pada 2012 lalu, lokasi surga berbelanja yang diklaim sebagai pasar paling besar di Asia Tenggara ini juga mulai dibenahi.

Parkir liar yang awal mulanya mengular sama-sama berebut tempat dengan pedagang kaki lima di lokasi pedestrian, mulai ditertibkan. Beberapa pedagang serta beberapa pemarkir liar ini di beri area supaya tidak lagi mengambil jatah area para pejalan kaki.

Penertiban itu berlanjut pada masa kepemimpinan Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang awal mulanya menjabat sebagai Wakil Gubernur masa Joko Widodo.

Ahok, sapaan Basuki, dengan sigap menyidak beberapa PKL serta pemarkir yang masih tetap bandel memakai lokasi yang ditujukan untuk pejalan kaki itu.

Sejak saat itu, Pasar Tanah Abang disulap tidak cuma sebagai surga berbelanja mega besar, namun sebagai lokasi pasar yang ramah pada beberapa pejalan kaki.

” Awal tahun 2016 itu Pasar Tanah Abang sudah benar-benar nyaman serta ramah pejalan kaki, macet juga telah makin menyusut. Lantaran telah tertata tidak ada lagi yang tawar-menawar di tepi jalan, ” kata Sekertaris Jendral Partai Solidaritas Indonesia, Raja Juli Antoni, waktu menyambangi lokasi Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (22/1) .

Sayangnya, menurut Raja, kesemrawutan itu kembali terjadi mulai sejak petahana mengambil cuti untuk kampanye Pilkada DKI pada 28 Oktober 2016 lalu. Jakarta, terutama lokasi Tanah Abang, lambat laun kembali pada wajah awalnya yang semrawut.

Ada benarnya penilaian Raja. Sebab, berdasar pada pantauan Channel24indo.net di sepanjang lokasi Tanah Abang, beberapa pejalan kaki kembali memenuhi lokasi pedestrian yang sudah diperlebar sepanjang lima meter itu.

Beberapa pedagang itu tampak nyaman menjual kembali dagangannya di sepanjang trotoar.

Lalu lintas sekitar pun terganggu lantaran beberapa pejalan kaki mau tak mau mesti jalan di badan jalan untuk menghindari lapak pedagang yang memenuhi trotoar. Sementara, pas di depan stasiun kereta api Tanah Abang, beberapa petugas Unit Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berkumpul tengah berjaga-jaga.

” Namanya kerja, ya biarin saja kalau mau (berdagang) , kalau ketentuan memang tidak boleh, cuman yang namanya juga cari rejeki, ” kata Awaludin, (nama smaaran) salah satu petugas Satpol PP yang berjaga di lokasi itu.

Awaludin menyampaikan Satpol PP telah meminta pedagang untuk kembali pada kios yang sudah disiapkan. Tetapi dia menyebutkan tidak gampang membujuk beberapa pedagang.

” Budaya di kita (Indonesia) itu kan begini, konsumen ingin beli yang depan mata dia, bila jualan di Blok G, umpamanya, konsumen ya telah datang duluan di Blok A atau B yang lebih dekat, yang di G sudah nggak laku, ” kata dia.

Wajah Jakarta yang kembali semrawut tidak cuma terlihat di lokasi Tanah Abang. Berjalan sedikit menuju lokasi Kota Tua, hal sama juga kembali terlihat.

Di sepanjang jalan menuju pintu masuk beberapa pedagang berjejelan menjual dagangannya di tepi jalan. Keadaan itu pasti bikin beberapa pejalan kaki pada akhirnya memakai badan jalan untuk mencapai tujuan.

” Tidak enak yah begini, maunya sih pedagangnya teratur, jangan sampai jualan di pinggir jalan gini, ” kata Aida (40) , pengunjung Kota Tua yang mengakui capek lantaran mesti berdesak-desakan dengan beberapa pedagang kaki lima saat melintas di lokasi pedestrian.

Janji Untuk PKL

Masalah PKL serta ketertiban memang jadi salah satu permasalahan paling utama yang dihadapi kota Jakarta. Mulai sejak saat kampanye Pilkada DKI, masalah ini juga sudah disorot oleh tiga pasangan calon.

Pasangan calon gubernur DKI no urut satu, Agus Yudhoyono, menyebutkan penggusuran PKL malah bakal memberi potret kemiskinan ibu kota.

” PKL ini bagian dari kita semua. Mereka penduduk Jakarta mempunyai hak mencari nafkah yang baik, ” kata Agus waktu dirinya mendatangi Munjul, Cipayung, Jakarta Timur, Desember lalu.

Dalam kampanyenya, Agus menyatakan bakal serius mengatasi persoalan penyusunan PKL di Jakarta. Dia berjanji bakal tingkatkan kesejahteraan PKL lewat cara meletakkan beberapa PKL ini di tempat yang baik serta dengan tata area yang lebih layak.

” Tidak main gusur, harus ada jalan keluar, ” kata Agus waktu itu.

Hal sama juga dilontarkan calon gubernur no urut tiga, Anies Baswedan. Ia juga mengajukan gagasan penataan dengan cara bertahap, bukanlah penggusuran. Sebab, menurut dia, semua warga memiliki hak mencari nafkah di ibu kota.

BACA JUGA : Agus Andalkan Sylvi dalam Debat Bertopik Reformasi Birokrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *