Klarifikasi FBR soal Permintaan THR

Klarifikasi FBR soal Permintaan THR

 

Channel24indo – Beberapa pebisnis di sepanjang jalan Bangun Cipta Sarana, Kelapa Gading, Jakarta Utara terima selembar surat permohonan Tunjangan Hari Raya dari Organisasi Masyarakat (Ormas) Forum Betawi Rempug Gardu.021 yang bermarkas di depan jalan tersebut .

Wahyudi (47), pegawai salah satu bengkel las di Jalan Bangun Cipta Sarana mengaku terima selebaran itu lebih kurang satu minggu kemarin.

Menurut dia, selebaran itu bukanlah hal yang baru diterimanya. Sebab, tahun lalu FBR G.021 juga menerbitkan selebaran serupa.

” Kami terima suratnya lebih kurang satu minggu kemarin. Itu sama seperti tahun lalu, ” tutur Wahyudi

Wahyudi menjelaskan FBR tidak membanderol besaran sumbangan yang perlu diserahkan. Ia berkata pihaknya rata-rata menyerahkan sekitaran Rp50-Rp100 ribu.

Ia berkata penyerahan uang sumbangan THR tidak dilakukan langsung. Kebanyakan, anggota FBR datang untuk menagih sumbangan sekitaran satu minggu saat surat diserahkan.

Wahyudi menjelaskan penagihan tidak dilakukan dengan paksaan. Sebab ia mengatakan terdapat banyak yang memiliki usaha yang tidak menyerahkan THR dikarenakan sebagian alasan.

” Jadi setahu saya tidak dipaksa. Keikhlasan saja, ” katanya.

Senada, Indra (40), seorang yang memiliki usaha percetakan di sekitaran markas FBR mengakui belum terima selebaran. Namun ia tidak menolak setiap tahun FBR meminta iuran untuk kebutuhan hari raya.

Sama seperti dengan Wahyudi, ia mengakui FBR tidak membanderol besaran sumbangan yang perlu diserahkan. Sehingga, dalam beberapa tahun terakhir dia berikan sumbangan dibawah Rp50 ribu.

” Mulai sejak sembilan tahun lalu memang telah ada iuran hari raya. Tak ada besarannya, ” tutur Indra.

Lepas dari sumbangan itu, Indra mempertanyakan peranan FBR di lingkungan tempatnya melakukan bisnis.

” Jujur saya ajukan pertanyaan perannya FBR disini apa. Tapi selain itu saya ikhlas berikan sumbangan, ” katanya.

Menyikapi hal tersebut, Ketua FBR G.021 Ahmad Ali membetulkan pihaknya menyebarkan selebaran itu. Namun ia mengatakan hal itu bukanlah sisi dari pemalakan kepada pelaku usaha di lingkungan Kelapa Gading.

” Ini sifatnya sukarela. Saya juga telah beritahu anggota supaya tidak memaksa, ” tutur Ali di tempat tinggalnya di Gang L, Pegangsaan, Kelapa Gading, Jakut.

Ali yang sempat menjabat jadi Wakil Ketua RW 5, tempat Gardu.021 berdiri itu mengakui permintaan THR bukanlah diperuntukkan untuk kebutuhan Ormas, tetapi untuk diberi pada anak yatim yang berada di lokasi itu.

Ia mengklaim tahun 2017 lalu pihaknya menyerahkan sumbangan berbentuk uang pada hampir 80 anak yatim dengan nominal per anak sebesar Rp100 ribu.

” Kami juga menyerahkan uang sisa sumbangan itu ke masjid untuk acara-acara keagamaan, ” katanya.

Dalam permintaan itu, Ali juga mengklaim pihaknya memakai kwitansi jadi bukti. Setelahnya, hasil uang yang di terima juga dimasukkan kedalam dokumen punya FBR untuk nantinya dievaluasi.

Atas keterangan itu, ia memohon seluruh pihak tidak salah menilai permintaan THR yang dilakukan FBR G.021 sebagi bentuk pemalakan. Sebab ia merasa cuma lewat cara itu sejumlah pihak, terlebih anak yatim dapat terbantu.

Berkaitan dengan hal tersebut juga, Ali mengakui telah di panggil oleh Ketum FBR Luthfi Hakim serta kepolisian. Ia disuruh untuk menjelaskan tentang masalah itu.

Namun, dalam konfirmasi itu dianya mengakui cuma diingatkan untuk lebih waspada dalam mengeluarkan pernyataan supaya masalah tidak melebar serta membuat resah masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *