Etnis Tionghoa Selalu Menjadi Kambing Hitam

Etnis Tionghoa Selalu Menjadi Kambing Hitam

Channel24indo – Etnis Tionghoa mulai sejak dulu memang lebih dikenal sebagai seorang pengusaha atau pedagang. Pandangan itu bahkan juga masih tetap menempel sampai sekarang ini.

Tetapi menurut sejarawan Didi Kwartanada semula kehadiran orang Tionghoa ke Indonesia bukanlah sebagai pedagang. Orang Tionghoa datang ke Indonesia sebagai perantau. Layaknya perantau, mereka merasa butuh memiliki langkah untuk dapat bertahan hidup di daerah rantauan.

Saat itu, orang Tionghoa melihat beberapa orang Indonesia yang sebagian besar merupakan seorang petani tidak bisa berdagang untuk menjual hasil pertaniannya. Belanda juga melihat hal itu. Sampai pada akhirnya Belanda memposisikan orang Tionghoa sebagai kelompok perantara.

” Orang Tionghoa diposisikan Belanda sebagai yang disebut minoritas perantara, di tengah-tengah penguasa dan kelas bawah, pribumi. Kelas menengah ini seperti dua sisi mata uang, di satu pihak bisa kaya dikarenakan berdagang dapat keringanan dari Belanda serta mempunyai akses ke pribumi. Namun di lain pihak, pribumi tidak senang karena dianggap perpanjangan tangan kolonial Belanda, ” kata Didi kepada Channel24indo minggu ini.

Posisi orang Tionghoa yang berada sebagai penghubung itu, lanjut Didi menjadikan mereka selalu jadi kambing hitam bila terjadi permasalahan, dari mulai masalah ekonomi, politik, serta lainnya.

Didi menyampaikan itu tidak cuma berlangsung di saat penjajahan Belanda, namun berlanjut di saat penjajahan Jepang serta bahkan juga hingga sesudah Indonesia merdeka.

Etnis Tionghoa Selalu Menjadi Kambing Hitam

” Orang Tionghoa sebagai minoritas penghubung selalu jadi kambing hitam, zaman kolonial, Jepang, revolusi, terkahir Mei 1998, dikarenakan gampang, paling kelihatan, yang paling mudah ya minoritas penghubung itu, ” tuturnya.

Faktor tersebut yang selanjutnya menyebabkan etnis Tionghoa juga jadi korban dalam kerusuhan yang terjadi pada Mei 1998 silam.

Didi menyampaikan, sesungguhnya etnis Tionghoa tidak benar-benar dilarang untuk ikut berpolitik pada saat pemerintahan orde baru. Tetapi, beberapa orang Tionghoa sendiri merasa takut untuk berpolitik dikarenakan adannya trauma di masa lalu, yakni peristiwa tahun 1965 dimana etnis Tionghoa juga menjadi kambing hitam.

” Tahun 1965 Tionghoa juga dikambinghitamkan, BAPERKI (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan) dituduh antek-antek RRC hingga ikut ditumpas, jadi ada trauma di situ, ” ucap Didi.

Walau demikian, pasca 1998 atau sesudah reformasi, sentimen anti-China atau posisi orang Tionghoa sebagai kambing hitam sudah mulai mengalami penurunan.

” Sentimen anti-China itu telah mengalami penurunan, tetapi saat ini (mulai terlihat lagi), kemarin ada 411, 212 arahnya ke sana lagi (kerusuhan Mei 1998), paling gampang lewat sentimen ras, ” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *